Info Tujuan Wisata

SLIDE-1-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-2-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-3-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

If you are going [...]

SLIDE-4-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

SLIDE-5-TITLE-HERE

Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com[...]

Minggu, 24 April 2011

Thailand

Terima Kasih, Anda Masih Datang ke Thailand...

Ditulis oleh andri kurniawan   
Sabtu, 01 Agustus 2009
ImageThailand mulai bersemi kembali. Ini menjadi kalimat yang sempat dituturkan Pong (57), pramuwisata yang menemani rombongan Thai Airways Denpasar bersama wisatawan lainnya berkeliling di sejumlah lokasi wisata di Ayutthaya, akhir Juni lalu.
Maklum, semenjak adanya insiden penutupan Bandara Internasional Suvarnabhumi dan Bandara Domestik Dong Muang oleh pemrotes antipemerintah awal Desember tahun lalu, pariwisata Thailand sempat terpuruk.

Pong biasanya memandu puluhan wisatawan dari sejumlah negara, seperti negara-negara di Eropa juga Indonesia. Namun, hingga akhir Juni lalu ia merasa masih sepinya pengunjung. Meski demikian, Pong optimistis wisatawan tetap percaya pada kemolekan dan keramahan Thailand sehingga terus menjadi daftar kunjungan liburan keluarga.

Sepanjang perjalanan menuju Ayutthaya dengan naik bus wisata River Sun Cruise dari pusat kota Bangkok memang hanya terlihat sawah yang sempat membosankan mata. Namun, Pong sanggup memberikan warna dengan beberapa bumbu canda dan sejumlah informasi penting. Baginya, turis menjadi raja dan menyadari penghidupannya bergantung kepada jutaan turis yang datang melancong ke Negeri Gajah putih itu.

Rombongan diperlihatkan tempat kediaman raja selayaknya keraton di Bang Pa-In Palace. Di tempat itu turis dilarang mengenakan pakaian kurang sopan. Tetapi tak perlu khawatir karena petugas menyiapkan baju dan kain untuk dipinjamkan. Selanjutnya tinggal memilih berkeliling naik mobil kecil atau berjalan kaki sambil menikmati taman yang luas dan indah.

Di lokasi Bang Pa-In terdapat beberapa bangunan dengan arsitektur campuran dari Thailand, China, hingga Eropa. Di antara bangunan megah terawat tersebut melintas aliran Sungai Chao Praya. Bang Pa-In Palace di Ayutthaya berjarak sekitar 30 kilometer dari Bangkok, ibu kota Thailand, dengan menaiki bus.

Kediaman Bang Pa-In Palace berupa bangunan peninggalan kerajaan abad ke-17 dari Raja Prasart. Namun, ada satu bangunan favorit raja yang mengundang suasana romantis, yaitu Phra Thinang Wehart Chamrun. Arti dari nama itu lebih kurang merupakan tempat sinar surga. Seluruh bangunan dibangun pada tahun 1889 dengan arsitektur China.

Bangunan berpilar dari kayu pilihan dicat warna merah dan belum pernah direnovasi hingga sekarang. Lantainya keramik nomor wahid yang seluruhnya dilukis tangan per kotaknya. Selain itu, kayunya juga terukir indah dengan lapisan emas dan perak asli. Benar-benar kemewahan. Sayangnya, sejak dibuka sebagai museum dan untuk umum, pengunjung dilarang memotret, dilarang mengenakan alas kaki, dilarang memakai topi, dan harus berpakaian sopan ketika memasuki ruangan itu. Tetapi pengunjung masih bisa mengabadikannya dari sisi luar.

Selanjutnya perjalanan ke Wat Mahathat di Ayutthaya. Ini merupakan salah satu candi yang perlu didatangi jika bersinggah di Thailand. Candi itu sekarang serupa puing-puing dibangun mulai tahun 1374 pada saat Raja Borommarachathirat I dan selesai pada masa Raja Ramesuan (1377-1395). Candi itu beberapa kali diperbaiki. Bahkan, tak sedikit pula para pencari harta karun mengambil bagian-bagian bangunan atau patung Buddha untuk dijual.

Setelah mengalami berbagai keadaan, Wat Mahathat yang sempat terkubur dapat tergali kembali meski semuanya tak lagi utuh, seperti hampir semua patung Buddha tanpa kepala dan tanpa tangan. Sekarang kawasan itu berada di bawah pengawasan Museum Nasional Chao Sam Phraya.

Salah satu yang menarik adalah kepala Buddha yang muncul tanpa badan di antara badan pohon. Banyak wisatawan berdoa di situ.

Perjalanan pun kembali bergerak di atas lajunya bus wisata menuju kapal pesiar milik River Sun Cruise untuk menyusuri Sungai Chao Praya dan makan siang di dalamnya. Lalu, baru kembali ke Bangkok selama sekitar dua jam. Sambil menunggu tiba ke atas kapal, beberapa kali Pong menunjukkan peninggalan sejarah, seperti wihara di Ayutthaya. Sayang peninggalan itu hanya bisa dilihat dari balik kaca bus.

Makan siang pun tiba dengan menu khas Thailand. Menaiki kapal pesiar dengan menikmati gelombang dan desir angin menjadi pengalaman luar biasa di Thailand. Bagaimana tidak, sungainya masih terawat dan menjadi salah satu transportasi masyarakat setempat. Sementara di Bali atau di tempat lain di Indonesia sepertinya sudah semakin berkurang dan yang bertambah adalah pemandangan sampah.

Selain menyusuri sungai di Bangkok, rombongan Thai Airways pun dibawa terbang menuju Hoh Samui. Ini merupakan salah satu pulau selain Phuket di Thailand dengan pemandangan yang hampir mirip Bali atau Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

General Manager Thai Airways di Bali Tanawat Hiranyalekha mengatakan, perjalanan wisata ini menjadi salah satu upaya pihaknya meyakinkan calon wisatawan bahwa Thailand aman sebagai tempat kunjungan. Ia pun tidak mengelak adanya penurunan jumlah penumpang sekitar 30 persen dari rata-rata setiap bulan menerbangkan sekitar 5.000 penumpang.

Namun, ia percaya bahwa kepercayaan calon wisatawan akan pulih setelah tragedi penutupan Bandara Internasional Suvarnabhumi pada awal Desember 2008. ”Kini waktunya kami dan sektor pariwisata bangkit,” ujar Tanawat.

Lelah dalam perjalanan pun terbayar ketika Bangkok-Denpasar sekitar empat jam lamanya itu menjadi tak terasa dengan kemanjaan penerbangan Thai Airways. Pelayanan dan keramahan tertuang dalam seluruh penerbangan. Kelas bisnis yang hanya ditempati 41 penumpang itu pun terasa luas bagi setiap penumpang, dengan kebebasan untuk merentangkan tempat duduk serta menyimak layar televisi di kursi masing-masing.

Hmmm... perjalanan yang nyaman. Belum lagi sajian makanan dengan menu tertata dari welcome drink, menu pembuka, menu utama, sampai menu penutup serta tak lupa semua penumpang kelas bisnis atau Royal Silk mendapatkan kenang-kenangan berupa tas kecil berisi perlengkapan penunjang perjalanan, seperti pasta gigi, sisir, dan kaus kaki.

Kembali teringat dengan Pong. Dengan berbahasa Inggris di depan wisatawan, ia terus mengucap syukur. ”Terima kasih, Turis. Anda masih percaya dan datang ke Thailand. Hidup kami bergantung kepada Anda. Turis merupakan tiga besar pendapatan kami,” ucap Pong dengan kedua tangannya menelungkup di depan dada.

By pande-baliwisata with

Skandagiri

Skandagiri, Tempat di atas Awan

Ditulis oleh arief   
Kamis, 20 Agustus 2009
ImageSkandagiri adalah bukit yang terletak kira-kira 70km dari kota Bangalore di negara bagian Karnataka. Terletak di dekat Bellary Road (NH-7-Hyderabad Bangalore Highway), dan sangat dekat dengan Bukit Nandi dan Chikkaballapura. Puncaknya pada ketinggian sekitar 1350 meter, tempai ini adalah surga indah bagi setiap petualang dengan perjalanan malam, berkemah, matahari terbit yang menakjubkan, dan tenang dan kolam awan yang terkadang batas visibilitas ke hanya beberapa meter.
 

Tentang Kalavaarahalli Betta


Desa tersebut bernama Kandavara halli dan bukitnya disebut Kandavarahalli Betta (Skandagiri dan Kalwarahalli Betta). Terletakdi Chikkaballapura di distrik Karnataka. Skandagiri merupakan salah satu benteng bukit dalam rentang Bukit Nandi. Kerungkuhan yang dinding Tipu Sultan's benteng dapat dilihat bahkan hari ini.

Sejarah mengatakan bahwa ini adalah benteng kecil tetapi kuat. Tipu Sultan melaporkan benteng ini diambil dari penguasa local dengan cara memberi susu untuk merracuni penguasanya saat itu. Ia menyerah kepada pasukan Inggris pada tanggal 19 Oktober 1791. Ia tetap tinggal di Inggris sampai tangan dari perjanjian perdamaian 1792, yang menyelesaikan perang ketiga Anglo-Mysore

Terdapat 2 gua di dareah ini, satu mulai dari dasar dan mengarah ke kuil di puncak dan lain adalah suatu jalan yang hanya sekitar 30 kaki. Keduanya belum pernah ditelusiri lebih lanjut, terutama yang pertama. Penduduk setempat mengatakan bahwa terdapat Pythons dalam gua tersebuti. Diduga, ada 6 Samadhis dalam gua.

Ketinggian sekitar 1350m di atas permukaan laut, Jarak sekitar 70 km dari Bangalore. Kota terdekat untuk Bantuan Medis adalah Chikkaballapura, 5 km. Bandara terdekat dan stasiun Kereta adalah diDevanahalli

Cara Menuju Kesana

Ada dua rute meuju ke Skandagiri, Pertama Dari NH-7, mengarah ke Nandi Hills. Di Nandi Hills belok kanan dan lanjutkan ke Desa Kalawara melalui Muddenahalli (tempat kelahiran bharath Rathna Sir.M.Visweswaraih).  Dari Chikkaballapura melanjutkan langsung ke desa Kalawara.

Cara untuk mencapai Bangalore

Dengan pesawat, Bandara Internasional Bangalore, yang dikenal sebagai 'HAL Bandara' yang terletak di Jalan Bandara, 6km dari pusat kota. Ini merupakan Bandara yang sibuk dengan lebih dari 70 penerbangan domestik dan internasional yang landings setiap hari, bandara ini dibagi menjadi tiga terminal. Terminal keberangkatan untuk Penerbangan Domestik dan Terminal II untuk tiba di dalam negeri dan swasta. Penerbangan beroperasi operator penerbangan reguler dari Delhi, Bombay, Calcutta, Madras, Trivandrum, Hyderabad, Goa, Kochi, dan Ahmadabad Mangalore. Terminal internasional menangani kedatangan dan keberangkatan penerbangan internasional dari dan ke Singapura, Dubai, London, Oman, Hong Kong dan Arab Saudi.

Dengan Kereta Api, Bangalore terhubung ke seluruh kota-kota besar di India dengan kereta api. Beberapa kereta api super cepat seperti Shatabhi, Bridavan, Lalbagh menyambung ke Chennai Bangalore. Stasiun Kota adalah terminal utama di Bangalore.

Oleh Jalan Raya Nasional Pusat menyambung ke Bangalore Chennai dan puneet. Kota dan kota-kota lain di negara-negara tetangga dan juga dihubungkan oleh jalan.

Cara untuk mencapai Skanda Giri dan Kalavaarahalli Betta

Langkah 1: Dari bandara internasional Bangalore, lewat Bellary Road.

Langkah 2: Setelah BIA di persimpangan, anda harus lewat jalan Chikkaballapura. Mengikuti jalan yang sama sampai Anda menemukan patung di Visweswaraih ke kiri.

Langkah 3: Ambil kiri di tempat ini dan berbelok ke kanan di Balai Kota

Langkah 4: Lurus lagi langsung mengarah ke papagni Mutt; yang merupakan dasar dari Skandagiri.

Di desa Kalawara tanyakan tentang arah Omkara jyoti Ashrama / Papagni Mutt. Ada candi Shiva dekat pangkalan dari bukit, di mana kendaraan dapat parkir. Nandi ke Kalawara ke Papagni Mutt adalah 6 km. Chikaballapur ke papagni Mutt adalah 3 km.

Apa yang harus dibawa ?

Harus membawa air, Kotak P3K dan makanan ringan. Penduduk Desa setempat terkadang berkemah di puncak dan menjual omelets dan teh. Mereka bahkan mengumpulkan kayu untuk Anda jika Anda ingin kemping.
 
Trekking

Tingkat Trekking: Sedang. Adalah umum untuk melakukan perjalanan di kegelapan, dan perjalan terasa lebih menyenangkan pada malam bulan purnama. Trekker biasanya mulai naik sekitar jam 2:00 pagi dan bertujuan untuk mencapai puncak sekitar 5:30 untuk melihat matahari terbit.

Ini adalah perjalanan yang sedikit membosankan saat muali mendaki bukit yang terjal dan tinggi. Perjalanan yang dimulai dari Candi Papagni di kaki bukit. Benteng yang ada di mata penuh sepanjang perjalanan menanjak. Tajam dan fantastis ini perjalanan melalui maze dari semak-semak lebat sangat menarik. Skandagiri adalah penggoda. Anda melihat rangakaian benteng dari bawah ke atas. Ada enam seperti rangkaian benteng di sepanjang perjalanan.

Baru-baru ini Departemen Kehutanan Karnataka telah menunjukkan minat terhadap Skandagiri karena sering dikunjungi orang dan telah mendirikan sebuah tempat parkir untuk semua kendaraan yang berkunjung ke sana. Dikernakan biaya Rs15 untuk setiap orang mengunjungi bukit ini.

Sekarang nikmatilah trekking ke Skandagiri – Kalavaarahalli Betta!

Sumber : irctcbookings.com
Foto : kaskus

By pande-baliwisata with

Turki

Merayakan bulan puasa di Turki

Ditulis oleh arief   
Kamis, 17 September 2009
Image

Sebagian besar penduduk Turki menganut agama Islam, di negara yang sebagian besar memiliki penduduk Muslim, bulan Ramadhan tidak akan dapat dilupakan dan ditinggalkan begitu saja. Dalam bulan ini, banyak hal unik dan menarik yang ada di Turki, tidak hanya kebiasaan, tapi juga makanan yang hanya muncul pada bulan Ramadhan ini. Turki menyebut bulan Ramadhan dengan sebutan Ramazan. Mari kita amati kebiasaan penduduk negara ini mulai sahur yuk...

Hari pertama Ramadhan di Turki dimulai dengan pengumuman secara resmi oleh pihak berwenang. Para penduduk Turki akan memulai puasa dengan menyiramkan minyak wangi dan air mawar ke ambang pintu rumah. Setelah itu mulailah hari pertama puasa dengan persiapan menu untuk sahur hari pertama.

Salah satu hal yang unik di Turki selama bulan Ramadhan, adalah munculnya para penabuh genderang yang akan menabuh genderang yang mereka bawa pada sekitar jam 3 pagi. Tujuannya tidak jauh dari kelompok-kelompok calung yang ada di daerah Jawa Barat, membangunkan orang untuk sahur, sekaligus juga untuk mengingatkan apabila waktu sahur sudah akan habis.

Kebiasaan unik ini terlihat jelas di Istanbul, para penabuh drum akan saling bersaing untuk membangunkan umat dengan menyanyikan lagu-lagu indah bersamaan dengan tabuhan drum mereka, bahkan ada beberapa yang menabuh drum sambil menyanyi dan naik motor untuk mempercepat gerak mereka.

Di penghujung Ramadhan, di hari yang disebut sebagai Sugar Festival. Para penabuh drum yang jumlahnya bisa mencapai lebih dari 1000 orang di Istanbul, ibukota Turki, akan menabuh genderangnya di siang hari. Mereka berjalan sambil mengetuk pintu rumah penduduk tempat mereka biasa berkeliling sambil menabuh drum untuk mengumpulkan uang tips sebagai 'upah' mereka membangunkan keluarga yang ada selama bulan Ramadhan.

Setelah berpuasa seharian, maka seperti biasa, hari puasa akan diakhiri dengan berbuka bersama. Hal yang unik adalah cara mereka memberitahukan bahwa puasa hari itu sudah berakhir yaitu dengan menyalakan lampu menara-menara masjid. Di Turki, selain adzan berkumandang, sebagai tanda bahwa sudah saatnya berbuka, menara-menara akan menyalakan lampu hias mereka. Lampu ini akan dibiarkan menyala sampai waktu untuk berpuasa dimulai lagi pada keesokan harinya.

Selain lampu, ternyata cara kedua lebih unik lagi. Hampir semua kota memiliki meriam sebagai peninggalan Kekaisaran Ottoman, bekas pertempuran di masa lalu. Semua meriam ini terawat baik, karena pada saat waktu berbuka, meriam ini mengambil peran penting. Meriam-meriam ini akan dinyalakan, dan bunyi ledakan meriam inilah yang menggantikan bunyi beduk sebagai penanda bahwa sudah saatnya berbuka di Turki.

By pande-baliwisata with

Mesir

Intip Ramadhan di Mesir Yuk!

Ditulis oleh arief   
Kamis, 17 September 2009
Ramadhan di Mesir adalah salah satu saat di mana negara ini akan menjadi 'hidup' dengan indah oleh api lentera. Walaupun Mesir telah menjadi salah satu negara yang ramai dan makmur, perdagangan dan gedung bertingkat yang mewah, masyarakat Mesir sama sekali tidak melupakan tradisi penting selama bulan Suci Ramadhan. Ada tiga hal yang selalu akan ditemui di Mesir selama Ramadhan: Fanous (lentera), Mesaharaty (penjaga malam) dan makanan hasil derma yang disebut Mawaed Al Rahman (makanan dari Allah yang Maha Pemurah)

Sejarah Fanous (lentera) dan Mesaharaty ini ternyata berawal dari masa Fatimid di Mesir. Beberapa sumber mengatakan bahwa penggunaan lentera ini dapat dilacak mulai sampai tahun 392 Hijriyah. Di masa ini dikisahkan bahwa masyarakat Mesir membawa lentera untuk menyambut kedatangan khalifah baru Al Muis Liddin Allah di gerbang kota Kairo. Sementara di kisah lain diceritakan bahwa wanita yang berjalan di luar rumah pada era Fatimid ini akan selalu ditemani oleh seorang anak laki-laki yang membawa lentera, untuk mengingatkan kepada para pria untuk tidak menggoda. Setelah tradisi ini hilang ditelan waktu, ternyata lentera tidak, mereka tetap ada dan dipergunakan untuk hiasan.

Selama Ramadhan, lentera dinyalakan di jalanan, rumah, restoran, toko, hotel, dan di berbagai tempat di Mesir. Nyala lentera sudah pasti merupakan simbol datangnya bulan Ramadhan di Mesir. Lentera yang biasa digunakan disebut fawanees ini tampil dengan penuh hiasan dan sumber nyala yang digunakan adalah lilin. Lentera ini dibuat dengan bahan timah atau perak dan kaca berwarna yang hanya dibuat selama bulan Sya'ban.


Kehadiran penjaga malam, Mesaharaty - yang akan berjalan di sekeliling kota dan pedesaan adalah salah satu tradisi yang dijaga tetap hidup di Mesir. Di negara ini, masyarakat tetap 'hidup' dan aktif bergerak sampai menjelang Shubuh pada saat Ramadhan, dan tugas para Mesaharaty ini tidak jauh beda dengan kelompok-kelompok tetabuhan yang akan membangunkan atau mengingatkan warga jika sudah tiba waktu sahur. Di masa lalu, bahkan seorang Mesaharaty bisa berhenti di depan rumah seseorang, memukul genderang yang dibawa olehnya atau bahkan jika mengenal baik, seorang Mesaharaty akan memanggil nama penghuni rumah tersebut untuk mengingatkan waktunya sahur


Bilal bin Rabah, muadzin pertama dalam sejarah Islam juga dianggap sebagai seorang Mesaharaty, karena ia mengingatkan orang dari puncak menara masjid untuk sahur dan saatnya Imsak. Tradisi ini sudah ada dalam sejarah Mesir semenjak tahun 238 Hijriyah, pada waktu itu Antaba bin Ishaq, penguasa kota, berjalan dari Fustat sampai ke Masjid Amir Ibnu Al Aas sambil mengajak para saudara Muslim untuk sahur. Akhirnya, seiring waktu, Mesaharaty menggunakan genderang, alat musik yang dijamin pasti akan membangunkan siapa pun dari tidurnya.

Walaupun banyak acara TV yang mulai bermunculan dengan tujuan membantu masyarakat untuk terjaga sampai sahur tiba, para Mesaharaty tidak hilang dari Kairo, Mesaharaty memang salah satu tradisi yang tidak akan hilang dari Mesir selama bulan Ramadhan. Para Mesaharaty tidak menerima gaji, hanya sedikit tips di penghujung Ramadhan, tapi kehadirannya merupakan bukti tradisi yang terus mengingatkan akan masa lalu. Kehadirannya, tabuhan genderang yang selalu dibawanya, selalu mengingatkan bahwa Ramadhan sudah datang.

Salah satu tradisi terakhir adalah memberikan iftar secara gratis, makanan berbuka puasa ini disebut sebagai Mawaed Al-Rahman, juga adalah tradisi mulia dari Mesir yang menggambarkan semangat Ramadhan secara sempurna, dengan semangat berbagi dan memberi dengan ikhlas. Seiring waktu, tradisi ini semakin menghilang, bahkan Kementrian Agama Mesir mulai mengurangi tradisi ini, dan mengalihkan dana untuk pembagian Mawaed Al-Rahman secara gratis ini menjadi 'Kantung Ramadhan' yang berisi beras, pasta dan minyak goreng.

Ternyata tradisi ini diterima baik oleh masyarakat, apalagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan mulai merasa malu untuk datang hanya makan gratis. Oleh karena itu, banyak mereka yang ingin menjalankan tradisi ini akhirnya mengganti dengan 'Kantung Ramadhan' yang ternyata lebih banyak pas di sasaran.

Sumber: Kapanlagi.com

By pande-baliwisata with